Banyak makanan tradisional Indonesia yang nempel di ingatan, tapi salah satu yang punya tempat spesial di hati banyak orang adalah kue rangi. Makanan sederhana ini terbuat dari campuran tepung sagu dan kelapa parut, lalu disajikan dengan siraman saus gula merah yang harum. Walaupun terlihat simpel, kue rangi punya cita rasa yang bikin kamu auto inget masa kecil.
Buat sebagian orang, kue rangi bukan cuma makanan. Ini adalah kenangan. Ada suara cetakan panas yang khas, ada wangi kelapa yang naik ke udara, dan ada sensasi nunggu sambil ngeliatin si abang tukang bikin adonan pelan-pelan. Rasanya nggak pernah berubah. Tetap gurih, lembut di dalam, dan renyah di bagian luar.
Di beberapa daerah, jajanan ini udah mulai jarang ditemuin. Banyak anak muda lebih kenal makanan viral dari luar negeri dibandingkan kuliner lokal yang udah ada sejak puluhan tahun lalu. Tapi untungnya, tren nostalgia mulai muncul lagi, dan makanan tradisional kayak gini pelan-pelan dapat tempat baru di hati generasi sekarang.
Kue Rangi dan Cerita yang Nempel di Memori
Kalau kamu pernah ngerasain masa SD atau SMP di era sebelum semuanya serba digital, kamu pasti pernah ketemu pedagang kue rangi keliling. Biasanya mereka pakai gerobak kecil, mangkal di depan sekolah atau di pinggir jalan. Kamu dan teman-teman mungkin rebutan beli walaupun uang jajan pas-pasan.
Ada yang makan sambil duduk di trotoar, ada yang bungkus pulang, ada juga yang sengaja makan sambil nongkrong bareng temen biar lebih seru. Hal-hal kayak gini kadang terlihat kecil, tapi ternyata nyimpen memori besar di kepala.
Sekarang, makanan tradisional juga makin di libatkan dalam perayaan budaya dan momen penting. Bahkan beberapa kegiatan seperti hari anak sedunia yang di bahas dalam artikel di hari anak sedunia sering memakai makanan tradisional sebagai simbol warisan budaya agar generasi muda tetap kenal akar budayanya.
Kenapa Rasa Kue Rangi Bisa Beda dari Jajanan Lain

Kalau kamu perhatiin, rasa kue rangi punya karakter yang unik. Itu karena bahan-bahannya semuanya alami. Tepung sagu bikin tekstur kue jadi ringan dan kenyal, sedangkan kelapa parut bikin sensasi gurih muncul pelan-pelan ketika digigit. Kombinasi ini bikin kamu merasa puas walaupun ukurannya kecil.
Bahkan tanpa topping kekinian, rasa aslinya udah enak. Tapi sekarang beberapa orang mulai berinovasi. Ada yang tambah santan, ada yang pakai topping cokelat, keju, kacang, bahkan matcha. Ada yang bilang topping begitu bikin rasanya kurang asli tapi sebagian lagi percaya kalau kreativitas ini bikin kue rangi tetap relevan buat generasi baru.
Walaupun ada eksperimen baru, identitas asli kue rangi tetap ada pada adonan sagunya dan saus gula merahnya. Ini yang bikin makanan tradisional tetap istimewa walaupun zaman berubah.
Cara Membuat Kue Rangi di Rumah
Kamu bisa bikin kue rangi sendiri di rumah, terutama kalau di daerahmu sulit menemukan pedagangnya. Bahannya mudah didapat dan prosesnya nggak ribet.
Berikut langkah bahan yang kamu butuhkan
• Tepung sagu 150 gram
• Kelapa parut 200 gram
• Garam sedikit
• Air secukupnya
Setelah itu kamu bisa mulai membuat adonannya
• Campurkan tepung dan kelapa parut
• Tambahkan garam sedikit biar rasa gurihnya muncul
• Tambahkan air pelan-pelan sampai adonan bisa dicetak
Kalau adonan udah jadi, lanjut proses memasaknya
• Panaskan cetakan kue pancong atau cetakan kue pukis
• Masukkan adonan dan tekan pelan supaya padat
• Masak sampai bagian bawah kecokelatan dan bagian atas agak kering
Sekarang bikin saus gula merah supaya rasanya makin mantap
• Rebus gula merah dengan sedikit air
• Tambahkan daun pandan biar wangi
• Masak sampai agak mengental
Kalau semua udah siap, kamu tinggal siram kue rangi dengan saus gula merah dan sajikan hangat. Rasanya langsung bikin mood kamu membaik.
Peran Media dan Tren Kuliner terhadap Kue Rangi
Sekarang, makanan tradisional banyak dibahas di media sosial. Konten kreator mulai review makanan jadul, bikin resep, bahkan mengangkat sejarah tiap makanan. Ini bikin banyak orang sadar kalau jajanan tradisional bukan cuma urusan perut, tapi bagian dari identitas budaya.
Festival kuliner, event UMKM, dan acara budaya juga mulai menampilkan makanan tradisional termasuk kue rangi. Hal ini bikin makanan yang sempat hampir dilupakan kembali punya penggemar.
Fenomena ini juga mirip dengan yang terjadi pada camilan lain seperti Dodol Garut yang makin di kenal bukan cuma karena rasanya, tapi karena cerita panjang di baliknya. Kue rangi punya potensi untuk ikut naik kelas seperti itu kalau tetap di lestarikan.
Kue Rangi Sebagai Identitas dan Warisan Rasa

Makanan tradisional kayak kue rangi selalu punya peran dalam menceritakan siapa kita. Bahan sederhana, proses yang diturunkan secara lisan, hingga pengalaman membeli dan menikmatinya adalah bagian kecil dari budaya yang lebih besar.
Kamu mungkin ngerasa makanan ini cuma cemilan biasa, padahal makanan tradisional adalah bukti hidup dari kreativitas nenek moyang dalam memanfaatkan bahan makanan lokal. Ini adalah warisan yang dibuat bukan hanya untuk kenyang, tapi untuk dinikmati.
Kalau generasi muda mau menghargai dan melestarikan makanan tradisional kayak gini, maka kue rangi nggak cuma tetap ada tapi juga bisa di kenal dunia.
Kesimpulan
Kue rangi bukan sekadar camilan kecil dengan rasa gurih dan manis. Makanan ini adalah perjalanan kenangan yang membawa kamu kembali ke masa kecil yang sederhana. Walaupun zaman berubah dan makanan modern bermunculan, kue rangi tetap punya tempat di hati banyak orang karena rasanya autentik dan penuh cerita.
Makanan tradisional seperti ini layak di jaga supaya tetap hidup, bukan hanya untuk nostalgia, tapi untuk menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia punya nilai budaya yang besar. Dengan mengenalkan, memasak, dan menikmati kue rangi, kamu ikut merawat warisan yang punya makna.
Semoga setelah membaca ini, kamu bukan cuma pengen makan, tapi juga merasa bangga menjadi bagian dari budaya yang kaya, hangat, dan penuh rasa seperti kue rangi.
